![]() |
| Jalan Nasional Sulteng Batas Provinsi Sulawesi Tenggara Mulus, Aman Dilalui Masyarakat |
Preservasi 2026 Bungku Batas Sultra, Jalan Yang Menjaga Nadi Industri Nikel Morowali
MOROWALI, Sulawesi Tengah - Jika Anda belum pernah ke Morowali, tahun 2026 ruas itu sedang dalam tahap penanganan melalui preservasi jalan.
Sore itu, tepat pukul 05.30 WITA, di Ruas Bungku – Bahodopi – Batas Sultra, jalan sudah ramai. Bukan oleh petani yang ke sawah. Tapi oleh ribuan karyawan tambang dan smelter nikel yang pulang kerja. Jalan ini bukan sekadar jalan. Ruas jalan Bungku Batas Sultra adalah urat nadi ekonomi Indonesia.
Tahun 2026 ini, urat nadi itu sedang dirawat dengan serius lewat program preservasi dengan target rampung akhir tahun.
Melalui PPK 4.4 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah IV, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Tengah (BPJN Sulteng), Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang mendapat amanah untuk melakukan Preservasi Jalan Nasional Ruas Bungku – Bahodopi – Batas Sulawesi Tenggara.
Bukan Aspal Biasa: Ada Asbuton di STA 4+375 Sampai 6+300
Jika jalan lain di Sulawesi Tengah menggunakan aspal biasa, di Bahodopi ceritanya berbeda. Di sini, PPK 4.4 menggunakan Aspal Asbuton (Aspal Buton)
![]() |
| Jalan Mulus, Ruas Bungku - Bahodopi Batas Provinsi Sulawesi Tenggara |
Ini adalah aspal kebanggaan Indonesia, aspal alam yang ditambang dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Lebih kuat, lebih tahan terhadap beban berat, dan lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Dan ini sangat masuk akal. Bayangkan, setiap hari, ruas ini dilalui oleh truk-truk tronton dengan muatan puluhan ton nikel. Jika menggunakan aspal biasa, dalam tiga bulan jalan itu akan bergelombang dan retak.
Maka di tahun 2026, PPK 4.4 melakukan Perkerasan dan Pelapisan Jalan dengan AC-WC (Asphalt Concrete-Wearing Course) Asbuton di segmen paling kritis: Bahodopi.
Titiknya presisi dan terukur, bukan asal hampar:
STA 4+375, STA 5+300, STA 5+350, STA 5+580, STA 5+600, STA 6+200, dan STA 6+300.
Tujuh titik itu adalah titik-titik yang selama ini menjadi keluhan. Ada yang berlubang karena rembesan air, ada yang bergelombang karena beban berlebih. Di tahun 2026, satu per satu ditutup dengan Asbuton yang hitam pekat, rata, dan kesat.
Seorang sopir truk logistik asal Bungku yang kami temui di STA 5+350 berkata dengan bahasa Morowali yang kental, "Alhamdulillah, Bos. Sekarang tidak lompat-lompat lagi mobil. Dulu di sini kalau muat berat, takut miring. Sekarang rata."
Kalimat sederhana, tapi di baliknya ada rasa lega.
Ada Beton Kaku di KM 09+800: Untuk Jalan yang Tidak Mau Kalah. Di KM 09+800, pendekatannya berbeda lagi.
Di titik ini, PPK 4.4 tidak menggunakan aspal. Mereka membangun Rigid Pavement atau Perkerasan Beton.
Pekerjaan galian sebelah dilakukan terlebih dahulu, tanah dasar diperkuat, baru kemudian beton kaku dihampar dengan ketebalan yang memenuhi standar.
Mengapa harus beton? Karena di KM 09+800 ini adalah daerah dengan tanah dasar yang labil dan genangan air yang cukup tinggi. Jika menggunakan aspal, air akan meresap dan merusak. Dengan beton kaku, jalan menjadi lebih rigid, tidak mudah retak, dan mampu menahan beban statis truk yang sering antre di kawasan ini.
Ini adalah bentuk kejelian teknis. Tidak semua titik diperlakukan sama. Ada yang butuh kelenturan Asbuton, ada yang butuh kekakuan beton.
Di Jembatan Buleleng: Ada Sambungan yang Diperbaiki untuk Keselamatan
Perjalanan dari Bungku ke Bahodopi tidak hanya soal jalan, tapi juga soal jembatan.
Salah satu yang paling vital adalah Jembatan Buleleng.
Bagi Anda yang pernah melintas, Anda pasti merasakan "jedug" keras saat roda melewati sambungan jembatan. Itu adalah tanda Expansion Joint atau sambungan jembatan sudah aus.
Expansion Joint itu seperti engsel pada lutut manusia. Ia harus fleksibel untuk memuai saat panas dan menyusut saat dingin, tapi harus tetap kuat menahan beban.
Di tahun 2026, PPK 4.4 melakukan Penggantian Expansion Joint Jembatan Buleleng. Sambungan lama yang sudah aus dan berkarat dicopot, diganti dengan Expansion Joint baru yang memenuhi standar.
Dampaknya langsung terasa. "Jedug" itu hilang. Kendaraan melintas dengan halus. Tidak ada lagi hentakan yang bisa merusak kaki-kaki mobil dan membahayakan pengendara motor.
Ini adalah pekerjaan yang tidak terlihat megah di foto, tapi menyelamatkan nyawa.
Pelebaran Menuju Standar: Jalan yang Memanusiakan Pengguna
Pekerjaan paling humanis di ruas ini adalah Pelebaran Jalan Menuju Standar.
Ruas Bungku – Bahodopi – Batas Sultra ini dulunya adalah jalan kabupaten yang ditingkatkan statusnya menjadi jalan nasional. Akibatnya, banyak segmen yang lebarnya masih di bawah standar jalan nasional, hanya 4,5 hingga 5 meter.
Bayangkan, jalan selebar 5 meter harus dilalui dua truk besar dari arah berlawanan. Salah satu harus mengalah dan berhenti di bahu jalan yang berlumpur. Antrean panjang, kemacetan, dan potensi kecelakaan tinggi.
Di tahun 2026, PPK 4.4 melakukan pelebaran secara bertahap agar memenuhi standar teknis jalan nasional dengan lebar 6 hingga 7 meter, plus bahu jalan.
Pelebaran ini bukan sekadar menambah aspal di kiri kanan. Ini adalah tentang memanusiakan pengguna jalan. Memberi ruang bagi karyawan tambang yang pulang kerja dengan motor agar tidak terserempet truk. Memberi ruang bagi ambulans yang membawa karyawan sakit agar bisa menyalip dengan aman.
DAMPAK SECARA UMUM: BUKAN HANYA SOAL MULUS
Jika proyek ini dilihat hanya sebagai proyek pengaspalan Asbuton di 7 titik STA, maka kita akan gagal memahami betapa besar dampaknya.
1. Dampak Logistik dan Industri Nasional.
Ini dampak paling besar. Morowali, khususnya Bahodopi, adalah Kawasan Industri Nikel terbesar di dunia Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Setiap hari, miliaran dolar nilai nikel keluar dari sini untuk baterai mobil listrik dunia.
Jika Ruas Bungku – Bahodopi – Batas Sultra putus atau rusak parah, maka rantai pasok industri nasional terganggu. Truk ore tidak bisa masuk smelter, truk CPO tidak bisa keluar. Dengan adanya preservasi jalan nasional yang mantap di tahun 2026 ini, PPK 4.4 sebenarnya sedang menjaga denyut ekonomi nasional. Jalan mantap, industri lancar, devisa negara aman.
2. Dampak Keselamatan dan Kemanusiaan.
Ini adalah koridor dengan volume kendaraan tertinggi di Sulawesi Tengah. Ribuan karyawan hilir mudik setiap hari. Sebelum ada pelebaran dan perbaikan Jembatan Buleleng, kecelakaan akibat jalan sempit dan sambungan jembatan yang rusak sering terjadi.
Dengan adanya Rigid Pavement di KM 09+800, Asbuton yang kesat di STA 4+375 hingga 6+300, dan Expansion Joint baru di Jembatan Buleleng, angka kecelakaan dapat ditekan. Jalan yang mantap adalah jalan yang menjaga nyawa.
3. Dampak Ekonomi Masyarakat Lokal.
Jangan lupakan, di sepanjang Bungku – Bahodopi, ada puluhan desa. Ada penjual bensin eceran, ada warung makan, ada bengkel, ada kos-kosan karyawan.
Ketika jalan mulus, waktu tempuh Bungku - Bahodopi yang dulu 2 jam karena rusak, kini bisa 1 jam. Perputaran uang di warung-warung menjadi lebih cepat. Hasil kebun masyarakat seperti sawit dan kakao dari wilayah Bungku Tengah bisa lebih cepat dibawa ke Bahodopi. Biaya transportasi turun, keuntungan petani naik.
4. Dampak Konektivitas Antar Provinsi.
Ruas ini ujungnya adalah Batas Sulawesi Tenggara. Ini adalah penghubung antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Ini adalah jalan yang menyatukan dua provinsi. Dengan preservasi yang menjaga tingkat kemantapan jalan lintas provinsi, mobilitas orang dan barang dari Kendari ke Morowali, atau sebaliknya, menjadi lancar. Tidak ada lagi cerita terisolir karena jalan putus di perbatasan.
5. Dampak Pemeliharaan Rutin yang Berkelanjutan.
PPK 4.4 tidak hanya membangun dan pergi. Ada Pemeliharaan Rutin dan Penanganan Khusus yang dilakukan secara berkelanjutan. Lubang kecil langsung di-patching, saluran yang tersumbat langsung dibersihkan. Ini adalah paradigma baru: menjaga lebih murah daripada membangun kembali. Jalan nasional di Morowali dijaga seperti aset berharga, karena memang ia adalah aset berharga.
Jalan yang Dijaga, Dirawat untuk Konektivitas
Sore itu di STA 5+600 Bahodopi, aspal Asbuton baru masih mengepulkan asap tipis. Seorang petugas PPK 4.4 berdiri di tepi, memastikan roller pemadat bekerja dengan presisi.
Di belakangnya, antrean truk dan motor mulai berjalan pelan di atas aspal baru yang hitam dan rata. Tidak ada lagi yang membanting setir menghindari lubang.
Di bawah semboyan Kemenpu - Sigap Membangun Negeri Untuk Rakyat apa yang dikerjakan PPK 4.4 di Ruas Bungku – Bahodopi – Batas Sultra tahun 2026 ini bukan sekadar pekerjaan perkerasan, jembatan, dan geometrik.
Ini adalah pekerjaan menjaga.
Menjaga agar nikel dari Morowali tetap bisa menjadi baterai untuk dunia. Menjaga agar ribuan karyawan bisa pulang dengan selamat ke rumah kosnya. Menjaga agar seorang ibu di Bungku bisa mendapat sembako dengan harga yang wajar karena truk logistik tidak lagi terhambat jalan rusak.
Dari STA 4+375 hingga Batas Sultra, dari Jembatan Buleleng hingga KM 09+800, jalan ini kini sedang dijaga.
Dan ketika jalan ini terjaga, maka sesungguhnya masa depan industri dan kemanusiaan di Morowali juga ikut terjaga.
PPK 4.4 Satker PJN Wilayah IV BPJN Sulawesi Tengah | Direktorat Jenderal Bina Marga | KemenPU




