PALU Infoaktualterkini.Com – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Presly Tampubolon, S.E., mengungkapkan bahwa sejak gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang terjadi pada 17 Juni 2026, aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung. Hingga saat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencatat lebih dari 1.800 gempa susulan dengan magnitudo yang bervariasi.
Menurut Presli, pada 19 Juni jumlah gempa susulan tercatat sekitar 890 kejadian, dan terus bertambah hingga kini. Sebagian besar gempa berkekuatan kecil, meski sesekali masih terjadi gempa dengan magnitudo di atas 3.
"Fenomena ini menunjukkan adanya pelepasan energi dari sesar-sesar aktif yang berada di wilayah Sigi dan saling berkaitan dengan sistem sesar hingga ke wilayah Parigi. Di satu sisi kita bersyukur karena energi terus dilepaskan dan kecenderungan magnitudonya semakin kecil," ujarnya.
Pasca-gempa, Pemerintah Kota Palu bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) segera menggelar rapat koordinasi untuk melakukan pendataan dampak bencana. Hasil asesmen menunjukkan adanya kerusakan ringan pada sejumlah rumah warga, gedung perkantoran, serta beberapa infrastruktur publik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi jembatan yang dinilai mengalami kerusakan kategori ringan hingga sedang. Berdasarkan hasil kajian tenaga ahli, ditemukan retakan pada bagian penampang kaki jembatan sehingga diperlukan pekerjaan penguatan atau retrofitting.
Presli menjelaskan, proses perbaikan akan dikoordinasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum bersama Dinas Perhubungan untuk mengatur rekayasa lalu lintas selama pekerjaan berlangsung. Jadwal penutupan maupun lamanya pengerjaan masih menunggu rancangan teknis dari instansi terkait.
Meski terjadi rangkaian gempa susulan, Pemerintah Kota Palu memutuskan tidak menetapkan status tanggap darurat. Hal tersebut didasarkan pada hasil pendataan yang menunjukkan tingkat kerusakan masih tergolong ringan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui media massa, media sosial, hingga jaringan pemerintah mulai dari OPD, kecamatan, kelurahan, RT, dan RW. Masyarakat diimbau agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
"Kami meminta masyarakat hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BPBD, maupun pemerintah. Banyak informasi yang beredar di media sosial tidak benar dan justru menimbulkan kepanikan," tegasnya.
BPBD juga menepis berbagai isu yang sempat beredar mengenai penetapan status tanggap darurat maupun kondisi Kota Palu yang disebut berada dalam keadaan berbahaya.
Menurut Presli, seluruh informasi tersebut telah diklarifikasi dan dipastikan tidak benar.
Ke depan, BPBD akan memperkuat upaya mitigasi bencana, baik dari sisi infrastruktur, penyebaran informasi, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui koordinasi lintas sektor.
Salah satu program yang akan dilaksanakan adalah Keluarga Tangguh Bencana, bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman setiap keluarga mengenai potensi bencana di lingkungan tempat tinggal serta langkah-langkah evakuasi mandiri apabila terjadi bencana.
Selain itu, Presli mengingatkan bahwa uji coba sirene peringatan dini tsunami tetap dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 26 setiap bulan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah disepakati bersama BMKG. Ia berharap masyarakat tidak panik karena kegiatan tersebut hanya merupakan simulasi kesiapsiagaan.
"Kota Palu memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Karena itu masyarakat harus mengenali potensi bencana di lingkungannya. Dengan memahami ancaman yang ada, masyarakat akan lebih siap melakukan evakuasi secara mandiri dan tidak mudah panik ketika terjadi bencana," pungkas Presly
Liputan : R
